Senin, 27 April 2015

analisis jurnal (1)

Analsis Jurnal
Judul                           : FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERILAKU SEKSUAL REMAJA DI JAWA TENGAH: IMPLIKASINYA TERHADAP KEBIJAKAN DAN LAYANAN KESEHATAN SEKSUAL DAN REPRODUKSI

Rabu, 08 April 2015

Pendidikan Karakter Anak Usia Dini

Assalamu’alaikum…
kawan-kawan semua, tidak ada salahnya bagi kita untuk saling berbagi ilmu. Karena sumber ilmu tidak hanya datang dari guru, melainkan seorang sahabat, orang tua, internet, gadget, dan masih banyak lagi. Semoga pembahasan ini dapat bermanfaat bagi kawan-kawan.
Pendidikan Karakter untuk Anak Usia Dini.
Pendidikan merupakan wadah perubahan yang tidak mungkin untuk ditinggalkan bagi setiap orang. Karena banyak orang berkeyakinan bahwa dengan adanya pendidikan dapat mengembangkan potensi yang dimiliki oleh setiap orang, baik potensi jasmaniah maupun potensi ruhaniyah. Selain itu, dengan adanya pendidikan dapat mengembangkan potensi anak sesuai dengan tingkatan umurnya, sehingga diharapkan anak itu menjadi seseorang yang berpengetahuan, bersikap, dan berketrampilan. Maka dari itu, seorang anak yang baru lahir harus di bimbing dan perlunya di kenalkan terhadap lingkungan sekitarnya. Dengan kata lain, pendidikan harus diberikan kepada setiap manusia, dari sejak manusia itu lahir sampai mati (Long Life Education).


Menurut Montessori, pendidikan sudah dimulai sejak bayi lahir. Karena itu, bayi pun harus dikenalkan pada orang-orang sekitarnya, suara-suara, benda-benda, diajak bercanda, dan bercakap-cakap agar mereka berkembang menjadi anak yang normal dan sehat. Hal ini didasarkan pada hasil suatu penelitian yang mengemukakan bahwa pendidikan terhadap anak usia dini akan mempengaruhi aspek intelektual, emosional dan spiritual anak yang meliputi perkembangan otak, kesehatan anak, kesiapan anak dalam bersekolah di tingkatan selanjutnya, kehidupan sosial dan ekonomi yang lebih baik.
Pada usia maksimal enam tahun merupakan usia imitasi anak, karena pada usia ini anak akan mudah menirukan hal-hal yang di lihat mapun di dengar, sehingga pada usia ini akan menentukan kepribadian anak ketika dewasa. Oleh karena itu, dengan gaya imitasi anak tersebut dapat dimanfaatkan oleh para orang tua untuk memberikan pendidikan yang berkarakter. Pendidikan karakter inilah yang akan membentuk anak ke arah yang lebih baik seiring pertumbuhan dan perkembangan anak. Namun, pengaruh yang paling signifikan dalam proses pembentukan karakter anak adalah bimbingan orang tua atau keluarga (pra sekolah), karena asuhan maupun bimbingan pertama kali dilakukan oleh orang tua, hal inilah yang kemudian menjadi faktor utama terbentuknya kepribadian anak.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Allison Clarke-Stewart dalam Yussen dan Santrock (1980: 372-373) terhadap ibu dan anak menunjukkan bahwa perilaku ibu dan anak terbentuk dalam satu faktor yang kompleks dari “ibu yang baik” yang disebut pengasuhan ibu yang optimal  (optimal maternal care). Menjadi ibu yang baik harus bisa memahami perkembangan anaknya, baik perkembangan itu dalam perspektif fisik, akal, bicara maupun perilaku. Karena dengan cara orang tua yang seperti itu, memudahkan bagi orang tua dalam memahami kondisi maupun keadaan yang sedang di alami anak. Misalnya, anak sedang mengalami trauma terhadap suatu kejadian maka bagi orang tua yang dapat memahami mental anaknya dengan cepat mengetahui dan tanggap terhadap kejadian yang menimpa anaknya, yang kemungkinan besar perasaan trauma pada anak dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan anak terutama pada aspek psikologi anak.
Menurut Martin Luther (1483-1546), keluarga adalah pihak yang paling penting dalam pendidikan anak. Jika orang tua dapat memberikan teladan yang baik kepada anaknya, maka sikap anak tidak jauh berbeda dengan orang tuanya, begitu sebalinya.
Orang tua, lingkungan masyarakat dan sekolah mempunyai tanggung jawab dalam membentuk karakter anak, adapun tips-tips dalam membentuk karakter anak, diantaranya,
1.      Memberikan keteladanan    
Anak dalam usia maksimal enam tahun memiliki sifat yang sangat sensitif terhadap lingkungan. Sehingga apapun yang di lihat, atau di dengar akan di jiplak dan diwujudkan dalam perilakunya sehari-hari. Hal ini memberikan masukan kepada orang tua khususnya, agar ketika berperilaku di depan anak harus mencerminkan nilai-nilai kebaikan.
2.      Hindari emosi negatif
Emosi dalam artian marah, tersinggung, membentak adalah hal-hal sifat alami yang di miliki oleh setiap orang. Namun, jika kita tidak bisa mengendalikan emosi maupun kemaraha kita apalagi kita lakukan di depan anak, maka hal ini sangat berbahaya.
3.      Menjadikan rumah sebagai taman ilmu
Rumah adalah tempat lahir, tumbuh, dan berkembangnya seorang anak. Dari rumahlah pendidikan anak dimulai. Oleh karena itu, jika rumah dijadikan sebagai pusat ilmu di samping sabagai tempat tinggal, maka anak dapat tumbuh dan berkembang menjadi kader yang mantap, dan penuh prestasi.
4.      Menyediakan wahana kreatifitas
Anak diberi ruang penuh untuk menampakkan jati diri dan identitasnya melalui wahana kretifitas yang tersedia, baik di rumah maupun di sekolah. Dari wahana kreatifitas inilah bakat terbesar anak akan Nampak. Jika bakat terbesarnya sudah kelihatan orang tua atau guru harus bergerak untuk membimbing dan mengarahkan anak sesuai dengan kelebihan atau keunggulan yang ia punya.

 Daftar Pustaka :
Ma’mur Asmani, Jamal. 2009. Manajemen Strategis Pendidikan Anak Usia Dini. Jogjakarta: DIVA Press

“Kita tidak mungkin berlomba-lomba dalam kebaikan, jika terlebih dahulu kita tidak berlomba-lomba dalam mencari ilmu yang bermanfaat” (Moto penulis)
            Wassalamu’alaikum….



Senin, 06 April 2015

Perkenalan Penulis

Banyak literatur maupun kajian hebat yang telah tersebar di berbagai media, baik buku, majalah, internet, koran. dlsb. Sehingga banyak pula referensi-referensi yang mudah untuk kita temui sejalan dengan perkembangan zaman yang memudahkan penyediaan fasilitas-fasilitas pula. Maka dari itu, melalui blog ini penulis mencoba mengungkapkan hasil olah pikirnya, dengan harapan karya yang dipublish dapat bermanfaat bagi khalayak. namun, alangkah baiknya penulis akan memperkenalkan diri mengenai identitasnya.
Nama : Juni Prasetya
Panggilan : Juni, tapi ada seberkas keinginan untuk dipanggil عا ب دو الله( 'Abdulloh)
Alamat Rumah : Kalak Ijo Guwosari Pajangan Bantul
Tempat/Tanggal lahir : Bantul/02 Juni 1994
Pendidikan : Pendidikan Agama Islam (S1) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Moto Hidup : Allah memberikan kepada semua manusia berupa kenikmatan. Seperti, kenikmatan bernafas, bergerak, bicara, mendengar, melihat dlsb. Namun yang lebih penting adalah Allah menciptakan manusia sebagai Khalifah dimuka bumi, dengan memberinya ilmu pengetahuan, sehingga bagi manusia akan sia-sia jika tidak menggunakan kenikmatan yang telah diberikan,