Assalamu’alaikum…
kawan-kawan semua, tidak ada salahnya bagi kita untuk saling
berbagi ilmu. Karena sumber ilmu tidak hanya datang dari guru, melainkan
seorang sahabat, orang tua, internet, gadget, dan masih banyak lagi. Semoga
pembahasan ini dapat bermanfaat bagi kawan-kawan.
Pendidikan Karakter untuk Anak Usia Dini.
Pendidikan merupakan wadah perubahan yang tidak mungkin untuk
ditinggalkan bagi setiap orang. Karena banyak orang berkeyakinan bahwa dengan
adanya pendidikan dapat mengembangkan potensi yang dimiliki oleh setiap orang,
baik potensi jasmaniah maupun potensi ruhaniyah. Selain itu, dengan adanya
pendidikan dapat mengembangkan potensi anak sesuai dengan tingkatan umurnya,
sehingga diharapkan anak itu menjadi seseorang yang berpengetahuan, bersikap,
dan berketrampilan. Maka dari itu, seorang anak yang baru lahir harus di
bimbing dan perlunya di kenalkan terhadap lingkungan sekitarnya. Dengan kata
lain, pendidikan harus diberikan kepada setiap manusia, dari sejak manusia itu
lahir sampai mati (Long Life Education).

Menurut Montessori, pendidikan sudah dimulai sejak bayi lahir.
Karena itu, bayi pun harus dikenalkan pada orang-orang sekitarnya, suara-suara,
benda-benda, diajak bercanda, dan bercakap-cakap agar mereka berkembang menjadi
anak yang normal dan sehat. Hal ini didasarkan pada hasil suatu penelitian yang
mengemukakan bahwa pendidikan terhadap anak usia dini akan mempengaruhi aspek
intelektual, emosional dan spiritual anak yang meliputi perkembangan otak,
kesehatan anak, kesiapan anak dalam bersekolah di tingkatan selanjutnya,
kehidupan sosial dan ekonomi yang lebih baik.
Pada usia maksimal enam tahun merupakan usia imitasi anak, karena
pada usia ini anak akan mudah menirukan hal-hal yang di lihat mapun di dengar,
sehingga pada usia ini akan menentukan kepribadian anak ketika dewasa. Oleh
karena itu, dengan gaya imitasi anak tersebut dapat dimanfaatkan oleh para
orang tua untuk memberikan pendidikan yang berkarakter. Pendidikan karakter
inilah yang akan membentuk anak ke arah yang lebih baik seiring pertumbuhan dan
perkembangan anak. Namun, pengaruh yang paling signifikan dalam proses
pembentukan karakter anak adalah bimbingan orang tua atau keluarga (pra
sekolah), karena asuhan maupun bimbingan pertama kali dilakukan oleh orang tua,
hal inilah yang kemudian menjadi faktor utama terbentuknya kepribadian anak.
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Allison Clarke-Stewart dalam
Yussen dan Santrock (1980: 372-373) terhadap ibu dan anak menunjukkan bahwa
perilaku ibu dan anak terbentuk dalam satu faktor yang kompleks dari “ibu yang
baik” yang disebut pengasuhan ibu yang optimal (optimal maternal care). Menjadi ibu yang
baik harus bisa memahami perkembangan anaknya, baik perkembangan itu dalam
perspektif fisik, akal, bicara maupun perilaku. Karena dengan cara orang tua
yang seperti itu, memudahkan bagi orang tua dalam memahami kondisi maupun
keadaan yang sedang di alami anak. Misalnya, anak sedang mengalami trauma
terhadap suatu kejadian maka bagi orang tua yang dapat memahami mental anaknya dengan
cepat mengetahui dan tanggap terhadap kejadian yang menimpa anaknya, yang
kemungkinan besar perasaan trauma pada anak dapat menghambat pertumbuhan dan
perkembangan anak terutama pada aspek psikologi anak.
Menurut Martin Luther (1483-1546), keluarga adalah pihak yang
paling penting dalam pendidikan anak. Jika orang tua dapat memberikan teladan
yang baik kepada anaknya, maka sikap anak tidak jauh berbeda dengan orang
tuanya, begitu sebalinya.
Orang tua, lingkungan masyarakat dan sekolah mempunyai tanggung jawab
dalam membentuk karakter anak, adapun tips-tips dalam membentuk karakter anak,
diantaranya,
1.
Memberikan
keteladanan
Anak
dalam usia maksimal enam tahun memiliki sifat yang sangat sensitif terhadap
lingkungan. Sehingga apapun yang di lihat, atau di dengar akan di jiplak dan
diwujudkan dalam perilakunya sehari-hari. Hal ini memberikan masukan kepada
orang tua khususnya, agar ketika berperilaku di depan anak harus mencerminkan
nilai-nilai kebaikan.
2.
Hindari
emosi negatif
Emosi
dalam artian marah, tersinggung, membentak adalah hal-hal sifat alami yang di
miliki oleh setiap orang. Namun, jika kita tidak bisa mengendalikan emosi
maupun kemaraha kita apalagi kita lakukan di depan anak, maka hal ini sangat
berbahaya.
3.
Menjadikan
rumah sebagai taman ilmu
Rumah
adalah tempat lahir, tumbuh, dan berkembangnya seorang anak. Dari rumahlah
pendidikan anak dimulai. Oleh karena itu, jika rumah dijadikan sebagai pusat
ilmu di samping sabagai tempat tinggal, maka anak dapat tumbuh dan berkembang
menjadi kader yang mantap, dan penuh prestasi.
4.
Menyediakan
wahana kreatifitas
Anak
diberi ruang penuh untuk menampakkan jati diri dan identitasnya melalui wahana
kretifitas yang tersedia, baik di rumah maupun di sekolah. Dari wahana
kreatifitas inilah bakat terbesar anak akan Nampak. Jika bakat terbesarnya
sudah kelihatan orang tua atau guru harus bergerak untuk membimbing dan
mengarahkan anak sesuai dengan kelebihan atau keunggulan yang ia punya.
Daftar Pustaka :
Ma’mur Asmani,
Jamal. 2009. Manajemen Strategis Pendidikan Anak Usia Dini. Jogjakarta: DIVA
Press
“Kita tidak mungkin berlomba-lomba dalam kebaikan, jika terlebih
dahulu kita tidak berlomba-lomba dalam mencari ilmu yang bermanfaat” (Moto
penulis)
Wassalamu’alaikum….