Lembaga kepemudaan atau sering kawan-kawan menyebutnya “Karang
Taruna” hampir dapat kita temukan diberbagai tempat, khususnya di
pelosok-pelosok desa dan jarang ditemukan di belahan kota. Biasanya, budaya
masyarakat desa dengan budaya masyarakat kota sangat terlihat perbedaannya. Bagi
masyarakat desa, mengenai aturan, norma, serta sopan santun merupakan sesuatu
yang sangat penting sekali. Mereka dapat hidup berdampingan dengan damai karena
didalam lingkup kehidupan mereka telah diatur oleh budaya hidup masyarakat
desa. Dengan kata lain, budaya berupa norma serta sopan santun merupakan
nilai-nilai yang dapat mengatur tata kehidupan diantara individu dalam suatu
kelompok masyarakat.
Berbeda dengan budaya masyarakat kota yang lebih material,
konsumtif, bahkan apatis. Namun, di samping itu budaya masyarakat kota memberikan
perubahan budaya, dari tradisional menuju budaya modern. Hal ini tentunya memberikan
dampak positif pula pada suatu masyarakat mengingat kemajuan zaman yang
menuntut kualitas individu untuk membuka diri pada ilmu pengetahuan modern
serta bangkit dari keterbelakangan budaya tradisional.
Perkembangan zaman yang semakin pesat, memiliki dampak secara
keseluruhan terhadap infrastruktur dan suprastruktur Negara, terkhusus daerah. Dampak
tersebut terlihat mulai dari aspek pendidikan, aspek ekonomi, aspek budaya,
aspek politik, aspek sosial, dan aspek perdagangan. Dari segi infrastruktur perlunya
pembaharuan atau perbaikan terhadap sarana serta prasarana yang terdapat
didalam segala bidang. Sedangkan dari segi suprastruktur pembaharuan dilakukan
dengan cara meningkatkan kompetensi tenaga kerja dalam segala bidang dalam
rangka menjawab persaingan global.
Berdasarkan pernyataan diatas, Infrastruktur serta Suprastruktur
merupakan dua hal yang keduanya tidak dapat dipisahkan. Apabila infrastruktur
suatu daerah dapat dikatakan telah mengalami modernisasi sarana, akan tetapi dari
suprastrukturnya sendiri belum memenuhi kompetensi yang ditentukan, maka
kemajuan suatu daerah akan sangat sulit untuk tercapai. Demikian halnya apabila
suprastrukturnya mumpuni namun infrastrukturnya kurang tersedia, maka yang
terjadi kesia-siaan dari bakat mumpuni yang tidak diperhatikan.
Inilah anomali atau ketidak normalan yang terjadi baik di ranah
masyarakat desa maupun di ranah masyarakat kota. Di Kota, banyak
fasilitas-fasilitas yang tersedia namun jarang muncul mereka yang berpendidikan
untuk peduli terhadap lingkungan hidupnya. Sedangkan, di Desa tidak sedikit
dari pemuda maupun pemudi mempunyai bakat yang mumpuni, namun karena kurangnya ketersediaan
fasilitas, bakat-bakat yang mereka miliki kurang mendapatkan tempat yang
terbaik. Seperti halnya mereka Pemuda dan Pemudi Karang Taruna Desa Kalak Ijo. Sebagaimana
hasil observasi, kekompakan, kebersamaan, serta kerukunan dapat mereka rasakan,
dimana jarang ditemukan hal-hal tersebut di daerah perkotaan.
Tidak banyak program-program kegiatan yang dimiliki oleh karang
taruna Kalak Ijo, cukup satu atau dua program kerja yang diagendakan. Namun, dari
hasil realisasinya dapat dikatakan “lumayan” (Luar Biasa Pemuda dan Pemudi yang
Punya Jiwa Sosial) itulah singkatannya. Kenapa? “karena sangat jarang sekali
mereka para generasi penerus yang memiliki jiwa sosial terhadap lingkungan
mereka”. Apalagi, mereka generasi penerus yang hidup serba mewah, serba
kecukupan bahkan kelebihan, sangat jarang sekali menjenguk mereka yaitu
masyarakat yang membutuhkan.
Bahkan, fenomena yang memprihatinkan ialah, ketika banyak para
pemuda dan pemudi yang berasal dari Desa mengadopsi pola hidup orang-orang
kota. Mereka melupakan bakat yang mereka punya hanya untuk mengejar popularitas
tanpa kualitas. Ini sungguh memprihatinkan, terlebih kita hidup seribu tahun
lagi, mau dibawa kemanakah Negara ini?, jika generasi-generasi yang muncul seperti
itu?.
Berdasarkan pernyataan tersebut, berbeda dengan apa yang dilakukan
oleh Pemuda dan Pemudi Kalak Ijo. Mulai dari mengais sampah, mengadakan sarasehan,
dan mengelola pengajian merupakan kegiatan utama mereka di dalam lingkup kepemudaan.
Mungkin, sudah banyak pula kepemudaan lainnya yang mengadakan kegiatan-kegiatan
semacam itu, bahkan organisasi tingkat sekolah atau kampus tidak jarang
mengadakan kegiatan-kegiatan semacam itu. Namun, satu hal yang membuat mereka
berbeda, yaitu tampil apa adanya yang penting kekompakan mereka utamakan. Di sekolah
maupun kampus, almamater, jaket, ataupun jas dipakai dengan sangat rapinya. Disini
mereka tampil apa adanya, cukup dengan sandal jepit, kaos oblong, baju dan celana
kusut, bahkan tidak banyak dari mereka yang jarang mandi.
Kegiatan rutin yang sering dijalankan oleh mereka ialah kajian atau
pengajian minggu pagi. Selama dua bulan sekali kepemudaan Kalak Ijo mengadakan
event pengajian bersama warga. Event ini mereka adakan sebagai ajang
silaturahim warga, baik dari warga kakung, putri, muda-mudi serta adek-adek. Bicara
mengenai antusiasme warga, sangat banyak warga-warga yang hadir di acara. Dari
30 KK yang rata-rata jumlah warga secara keseluruhan 130an, jumlah kehadiran
mencapai 100/kepala. Hasil data yang menunjukkan kepuasan bagi penyelenggara
acara pengajian yaitu mereka Pemuda dan Pemudi Kalak Ijo.
Kegiatan lainnya, yang tergolong sangat jarang sekali dilaksanakan
ialah sarasehan atau dalam bahasa gaulnya “seminar”. Pernah dua kali atau tiga
kali mengadakan kegiatan ini. Secara kompleks acara dilaksanakan berdasarkan
permasalahan-permasalahan atau isu yang sedang hangat diperbincangankan, baik
di dunia nyata maupun di dunia maya. Acara yang pertama mengenai “Pentingnya
Pendidikan” disampaikan dengan tujuan untuk memberikan semangat kawan-kawan
pemuda pemudi untuk tidak putus sekolah, mengingat begitu banyaknya angka putus
sekolah. Acara yang kedua yaitu mengenai “Pendidikan seks untuk remaja”
ditujukan untuk remaja agar tidak terjerumus kedalam pergaulan bebas. Sedangkan
acara yang ketiga yaitu mengenai “Penggunaan Media Sosial” dengan tujuan
mengajak muda-mudi Kalak Ijo untuk tidak menyalah gunakan media sosial yang
mereka miliki. Ketiga acara tersebut sementara ditujukan kepada kawan-kawan muda-mudi
Desa Kalak Ijo.
Selain itu, Hampir setiap dua minggu sekali kawan-kawan muda-mudi
Kalak Ijo berkeliling ke rumah-rumah untuk mengais sampah, sebagai satu-satunya
jalan mereka untuk mendapatkan penghasilan. Sampah-sampah tersebut mereka
kumpulkan menjadi satu tempat. Setelah sampah terkumpul, mereka pilah mana yang
termasuk botol plastik, botol kaca, kardus, kertas, besi, kaleng atau bodongan.
Kesemuanya mereka pilah, hingga hari menjelang siang, matahari hampir berdiri
ditengah-tengah kesibukan mereka. Rasa panas, bau menyengat, belum masih banyak
kotoran yang tersisa dari barang-barang bekas yang diambil, merupakan hal biasa yang sering dijumpai oleh kawan-kawan kita.
Namun, kesabaran dan ketekunan yang mereka miliki mengajarkan kita bersama
betapa indahnya suatu “perjuangan yang dilakukan dalam bingkai kebersamaan”.
Inilah mungkin semboyan yang tepat untuk menggambarkan bagaimana
suatu kemajuan dapat diraih oleh Negara. Kemajuan hanya akan menjadi sebatas mimpi
belaka, jika tidak dibarengi dengan kesungguhan dalam perjuangan. Dan
perjuangan tidak akan mungkin diraih oleh suatu Negara, jika yang mengupayakan
hanya dari pemerintah ataupun jajaran-jajarannya. Negara butuh dukungan masyarakat
untuk maju ke baris depan. Terlebih masyarakat-masyarakat yang ada dijauh
pelosok sana yang sangat jarang sekali diperhatikan. Tidak dapat dipungkiri, dukungan
masyarakat akan mewarnai kiprah bangsa dalam menelusuri perjalanannya menuju kemerdekaan.
Artinya, pembangunan nasional hanya bisa diraih oleh Negara yang tidak
melupakan rakyatnya, khususnya kepada mereka “Para Pemuda”.
Para pemuda yang “Lumayan” sangat sulit sekali untuk ditemukan, dan
sangat langka untuk dicari. Mereka memiliki tiga program tersebut tidak
semata-mata hanya program yang berdasar asal-asalan. Namun lebih dari itu,
mereka pertimbangkan dengan matang program-program apa saja yang hendak mereka realisasikan.
Dasar yang mereka patok adalah “kebermanfaatan bersama”.
Di mulai dari Pengajian, mereka adakan untuk seluruh warga,
termasuk bapak-bapak dan ibu-ibu. Miskin serta keringnya rohani warga menjadi
asal-muasal bagi muda-mudi Kalak Ijo untuk memberikan solusi terbaik berupa “Siraman
Rohani”. Sedangkan untuk sarasehan mereka tujukan kepada pemuda dan pemudi
Kalak Ijo secara keseluruhan. Acara ini diadakan atas realita yang baru hangat
terjadi. Misalnya, banyak anak-anak yang lebih memilih putus sekolah, kasus
hamil di luar nikah, pergaulan bebas akibat media sosial, dan lain sebagainya. Kegiatan
yang tidak kalah pentingnya, yang menjadi satu-satunya sumber pemasukan bagi
kas muda-mudi Kalak Ijo yaitu kegiatan “Bank Sampah”. Ketika sampah-sampah
telah terkumpul, sampah-sampah tersebut kemudian dijual dengan harga yang
bervariasi dari setiap jenisnya. Hal ini mereka lakukan untuk mengumpulkan
uang, sampai terkumpul uangnya mereka gunakan untuk mengadakan pengajian dan
sarasehan. “Dari sampah berbuah kemuliaan” Sungguh mulia pekerjaan kalian
kawan-kawan.
Melalui kegiatan kecil di Desa, mereka mengharumkan nama bangsa. Mereka
ikut membangun rasa nasionalisme bangsa, karena kecintaannya terhadap bangsa
ini. Tidak atas nama golongan, ras ataupun suku, namun atas nama kepedulian
sosial yang mereka bangun mencairkan perbedaan untuk kesamaan. Mereka tidak
juga butuh popularitas yang dikenal dimana-mana, tapi mereka hanya butuh kesuksesan
dan kelancaran dalam memberikan manfaat untuk orang lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar