Jumat, 16 Desember 2016

“Perjuangan Dalam Bingkai Kebersamaan”



Lembaga kepemudaan atau sering kawan-kawan menyebutnya “Karang Taruna” hampir dapat kita temukan diberbagai tempat, khususnya di pelosok-pelosok desa dan jarang ditemukan di belahan kota. Biasanya, budaya masyarakat desa dengan budaya masyarakat kota sangat terlihat perbedaannya. Bagi masyarakat desa, mengenai aturan, norma, serta sopan santun merupakan sesuatu yang sangat penting sekali. Mereka dapat hidup berdampingan dengan damai karena didalam lingkup kehidupan mereka telah diatur oleh budaya hidup masyarakat desa. Dengan kata lain, budaya berupa norma serta sopan santun merupakan nilai-nilai yang dapat mengatur tata kehidupan diantara individu dalam suatu kelompok masyarakat.
Berbeda dengan budaya masyarakat kota yang lebih material, konsumtif, bahkan apatis. Namun, di samping itu budaya masyarakat kota memberikan perubahan budaya, dari tradisional menuju budaya modern. Hal ini tentunya memberikan dampak positif pula pada suatu masyarakat mengingat kemajuan zaman yang menuntut kualitas individu untuk membuka diri pada ilmu pengetahuan modern serta bangkit dari keterbelakangan budaya tradisional.
Perkembangan zaman yang semakin pesat, memiliki dampak secara keseluruhan terhadap infrastruktur dan suprastruktur Negara, terkhusus daerah. Dampak tersebut terlihat mulai dari aspek pendidikan, aspek ekonomi, aspek budaya, aspek politik, aspek sosial, dan aspek perdagangan. Dari segi infrastruktur perlunya pembaharuan atau perbaikan terhadap sarana serta prasarana yang terdapat didalam segala bidang. Sedangkan dari segi suprastruktur pembaharuan dilakukan dengan cara meningkatkan kompetensi tenaga kerja dalam segala bidang dalam rangka menjawab persaingan global.
Berdasarkan pernyataan diatas, Infrastruktur serta Suprastruktur merupakan dua hal yang keduanya tidak dapat dipisahkan. Apabila infrastruktur suatu daerah dapat dikatakan telah mengalami modernisasi sarana, akan tetapi dari suprastrukturnya sendiri belum memenuhi kompetensi yang ditentukan, maka kemajuan suatu daerah akan sangat sulit untuk tercapai. Demikian halnya apabila suprastrukturnya mumpuni namun infrastrukturnya kurang tersedia, maka yang terjadi kesia-siaan dari bakat mumpuni yang tidak diperhatikan.
Inilah anomali atau ketidak normalan yang terjadi baik di ranah masyarakat desa maupun di ranah masyarakat kota. Di Kota, banyak fasilitas-fasilitas yang tersedia namun jarang muncul mereka yang berpendidikan untuk peduli terhadap lingkungan hidupnya. Sedangkan, di Desa tidak sedikit dari pemuda maupun pemudi mempunyai bakat yang mumpuni, namun karena kurangnya ketersediaan fasilitas, bakat-bakat yang mereka miliki kurang mendapatkan tempat yang terbaik. Seperti halnya mereka Pemuda dan Pemudi Karang Taruna Desa Kalak Ijo. Sebagaimana hasil observasi, kekompakan, kebersamaan, serta kerukunan dapat mereka rasakan, dimana jarang ditemukan hal-hal tersebut di daerah perkotaan.
Tidak banyak program-program kegiatan yang dimiliki oleh karang taruna Kalak Ijo, cukup satu atau dua program kerja yang diagendakan. Namun, dari hasil realisasinya dapat dikatakan “lumayan” (Luar Biasa Pemuda dan Pemudi yang Punya Jiwa Sosial) itulah singkatannya. Kenapa? “karena sangat jarang sekali mereka para generasi penerus yang memiliki jiwa sosial terhadap lingkungan mereka”. Apalagi, mereka generasi penerus yang hidup serba mewah, serba kecukupan bahkan kelebihan, sangat jarang sekali menjenguk mereka yaitu masyarakat yang membutuhkan.  
Bahkan, fenomena yang memprihatinkan ialah, ketika banyak para pemuda dan pemudi yang berasal dari Desa mengadopsi pola hidup orang-orang kota. Mereka melupakan bakat yang mereka punya hanya untuk mengejar popularitas tanpa kualitas. Ini sungguh memprihatinkan, terlebih kita hidup seribu tahun lagi, mau dibawa kemanakah Negara ini?, jika generasi-generasi yang muncul seperti itu?.  
Berdasarkan pernyataan tersebut, berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Pemuda dan Pemudi Kalak Ijo. Mulai dari mengais sampah, mengadakan sarasehan, dan mengelola pengajian merupakan kegiatan utama mereka di dalam lingkup kepemudaan. Mungkin, sudah banyak pula kepemudaan lainnya yang mengadakan kegiatan-kegiatan semacam itu, bahkan organisasi tingkat sekolah atau kampus tidak jarang mengadakan kegiatan-kegiatan semacam itu. Namun, satu hal yang membuat mereka berbeda, yaitu tampil apa adanya yang penting kekompakan mereka utamakan. Di sekolah maupun kampus, almamater, jaket, ataupun jas dipakai dengan sangat rapinya. Disini mereka tampil apa adanya, cukup dengan sandal jepit, kaos oblong, baju dan celana kusut, bahkan tidak banyak dari mereka yang jarang mandi.
Kegiatan rutin yang sering dijalankan oleh mereka ialah kajian atau pengajian minggu pagi. Selama dua bulan sekali kepemudaan Kalak Ijo mengadakan event pengajian bersama warga. Event ini mereka adakan sebagai ajang silaturahim warga, baik dari warga kakung, putri, muda-mudi serta adek-adek. Bicara mengenai antusiasme warga, sangat banyak warga-warga yang hadir di acara. Dari 30 KK yang rata-rata jumlah warga secara keseluruhan 130an, jumlah kehadiran mencapai 100/kepala. Hasil data yang menunjukkan kepuasan bagi penyelenggara acara pengajian yaitu mereka Pemuda dan Pemudi Kalak Ijo.
Kegiatan lainnya, yang tergolong sangat jarang sekali dilaksanakan ialah sarasehan atau dalam bahasa gaulnya “seminar”. Pernah dua kali atau tiga kali mengadakan kegiatan ini. Secara kompleks acara dilaksanakan berdasarkan permasalahan-permasalahan atau isu yang sedang hangat diperbincangankan, baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Acara yang pertama mengenai “Pentingnya Pendidikan” disampaikan dengan tujuan untuk memberikan semangat kawan-kawan pemuda pemudi untuk tidak putus sekolah, mengingat begitu banyaknya angka putus sekolah. Acara yang kedua yaitu mengenai “Pendidikan seks untuk remaja” ditujukan untuk remaja agar tidak terjerumus kedalam pergaulan bebas. Sedangkan acara yang ketiga yaitu mengenai “Penggunaan Media Sosial” dengan tujuan mengajak muda-mudi Kalak Ijo untuk tidak menyalah gunakan media sosial yang mereka miliki. Ketiga acara tersebut sementara ditujukan kepada kawan-kawan muda-mudi Desa Kalak Ijo.
Selain itu, Hampir setiap dua minggu sekali kawan-kawan muda-mudi Kalak Ijo berkeliling ke rumah-rumah untuk mengais sampah, sebagai satu-satunya jalan mereka untuk mendapatkan penghasilan. Sampah-sampah tersebut mereka kumpulkan menjadi satu tempat. Setelah sampah terkumpul, mereka pilah mana yang termasuk botol plastik, botol kaca, kardus, kertas, besi, kaleng atau bodongan. Kesemuanya mereka pilah, hingga hari menjelang siang, matahari hampir berdiri ditengah-tengah kesibukan mereka. Rasa panas, bau menyengat, belum masih banyak kotoran yang tersisa dari barang-barang bekas yang diambil, merupakan hal biasa yang sering dijumpai oleh kawan-kawan kita. Namun, kesabaran dan ketekunan yang mereka miliki mengajarkan kita bersama betapa indahnya suatu “perjuangan yang dilakukan dalam bingkai kebersamaan”.
Inilah mungkin semboyan yang tepat untuk menggambarkan bagaimana suatu kemajuan dapat diraih oleh Negara. Kemajuan hanya akan menjadi sebatas mimpi belaka, jika tidak dibarengi dengan kesungguhan dalam perjuangan. Dan perjuangan tidak akan mungkin diraih oleh suatu Negara, jika yang mengupayakan hanya dari pemerintah ataupun jajaran-jajarannya. Negara butuh dukungan masyarakat untuk maju ke baris depan. Terlebih masyarakat-masyarakat yang ada dijauh pelosok sana yang sangat jarang sekali diperhatikan. Tidak dapat dipungkiri, dukungan masyarakat akan mewarnai kiprah bangsa dalam menelusuri perjalanannya menuju kemerdekaan. Artinya, pembangunan nasional hanya bisa diraih oleh Negara yang tidak melupakan rakyatnya, khususnya kepada mereka “Para Pemuda”.
Para pemuda yang “Lumayan” sangat sulit sekali untuk ditemukan, dan sangat langka untuk dicari. Mereka memiliki tiga program tersebut tidak semata-mata hanya program yang berdasar asal-asalan. Namun lebih dari itu, mereka pertimbangkan dengan matang program-program apa saja yang hendak mereka realisasikan. Dasar yang mereka patok adalah “kebermanfaatan bersama”.
Di mulai dari Pengajian, mereka adakan untuk seluruh warga, termasuk bapak-bapak dan ibu-ibu. Miskin serta keringnya rohani warga menjadi asal-muasal bagi muda-mudi Kalak Ijo untuk memberikan solusi terbaik berupa “Siraman Rohani”. Sedangkan untuk sarasehan mereka tujukan kepada pemuda dan pemudi Kalak Ijo secara keseluruhan. Acara ini diadakan atas realita yang baru hangat terjadi. Misalnya, banyak anak-anak yang lebih memilih putus sekolah, kasus hamil di luar nikah, pergaulan bebas akibat media sosial, dan lain sebagainya. Kegiatan yang tidak kalah pentingnya, yang menjadi satu-satunya sumber pemasukan bagi kas muda-mudi Kalak Ijo yaitu kegiatan “Bank Sampah”. Ketika sampah-sampah telah terkumpul, sampah-sampah tersebut kemudian dijual dengan harga yang bervariasi dari setiap jenisnya. Hal ini mereka lakukan untuk mengumpulkan uang, sampai terkumpul uangnya mereka gunakan untuk mengadakan pengajian dan sarasehan. “Dari sampah berbuah kemuliaan” Sungguh mulia pekerjaan kalian kawan-kawan.
Melalui kegiatan kecil di Desa, mereka mengharumkan nama bangsa. Mereka ikut membangun rasa nasionalisme bangsa, karena kecintaannya terhadap bangsa ini. Tidak atas nama golongan, ras ataupun suku, namun atas nama kepedulian sosial yang mereka bangun mencairkan perbedaan untuk kesamaan. Mereka tidak juga butuh popularitas yang dikenal dimana-mana, tapi mereka hanya butuh kesuksesan dan kelancaran dalam memberikan manfaat untuk orang lain.    

     



Tidak ada komentar:

Posting Komentar