Kamis, 14 Januari 2016

Berawal dari keajaiban



Berawal dari Keajaiban
          Membaca dan menulis adalah suatu pekerjaan yang sangat menyenangkan sekali, sampai-sampai pekerjaan ini merupakan hobi dari seekor kodok kecil yang memiliki cita-cita untuk menjadi seorang penulis terkenal. Penulis yang dapat memberikan manfaat untuk masyarakat kodok yang lain. Namun, sepertinya kodok-kodok yang lain kurang menyukai kehadiran kodok kecil karena kodok kecil memiliki penyakit yang menjijikkan untuk dilihat. Penyakit tersebut adalah penyakit keturunan dari bapak kodok kecil.Sehingga karena penyakit itu bapak kodok kecil sakit-sakitan sampai puluhan tahun hingga akhirnya mati.Kodok kecil dan ibunya sangat sedih menerima kenyataan itu, sekarang mereka hidup bersama dengan rumah yang sangat sederhana.
            Sebenarnya kodok kecil pengen sekali bermain dengan kawan-kawannya.Namun, ketika kodok kecil menghampiri kawan-kawannya yang sedang bermain, mereka selalu menjauh dan pergi meninggalkan kodok kecil. Bahkan, ada pula kawan-kawannya yang sering mengejek kodok kecil, “penyakitan-penyakitan-penyakitannnn…….”.Kodok kecil hanya bisa sabar menerima ejekan dari kawan-kawannya.Dia tidak mau melawan karena dalam hatinya dia sebenarnya ingin sekali mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari kawan-kawannya.Dia pun pulang dengan langkah kaki yang sangat lemas.Ibu kodok kecil mengetahui hal itu kemudian kodok kecil dimarahi dan ibu kodok kecil memberikan larangan untuk tidak keluar rumah.
            Kodok kecil hanya bisa bersedih didalam kamarnya.Ibunya pun menghampiri kodok kecil yang sedang bersedih hati.“Nak maafkan ibu yaa, ibu marahin kamu, maafin ibu sayang”, kata ibu kodok kecil sambil berkaca-kaca matanya melihat anaknya yang sedih. “buu.. aku sedih bukan karena dimarahin ibuu.. tapi aku sedih karena penyakitku belum sembuh-sembuh buu….” Kata kodok kecil dengan suara kesedihannya. Ibu kodok kecil menjawab, “nak..besok kalau ibu sudah ada uang kita beli obat untuk penyakitmu nak, Allah pasti akan memberikan kemudahan kepada kita, yaa sayang?”.Kemudian kodok kecil itu menjawab dengan senyuman kepada ibunya, “baik bu, terima kasih bu, aku janji sama ibu dan bapak yang ada di surga sekarang, kalau aku bisa sembuh, dan aku pasti bisa membahagiakan ibu dengan kerja keras aku bu.”
            Setelah merasa persoalan selesai, kemudian ibu kodok kecil menyuruh anaknya untuk beribadah kepada Allah, dan berdoa kepada-Nya agar Dia menyembuhkan penyakit kodok kecil.
Ibadah pun selesai kemudian kodok kecil merasa ngantuk hingga akhirnya kodok kecil tertidur di tempat ibadahnya.Di dalam tidurnya yang nyenyak, kodok kecil bermimpi melihat banyak tulisan di langit, dan melihat pula banyak buku berterbangan di udara.Seakan-akan kodok kecil ingin meraih tulisan dan buku itu. Hingga kodok kecil terbangun dari tidurnya dan berpikir kembali kepada apa yang telah dialaminya dalam mimpinya itu. Kodok kecil kemudian berdiri sambil berpikir terus, bolak balik di kamarnya.Sampai kemudian kodok kecil melihat di depan jendela kamarnya tumpukan kertas dan lima buku yang tebal-tebal. Kodok kecilpun kaget dengan adanya tumpukan kertas dan dan lima buku itu. “Ya Allah datangnya dari mana buku-buku dan kertas-kertas ini” sahut kodok kecil. Kemudian kodok kecil berlari menemui ibunya dan bertanya,”ibuuu… ibu beli kertas dan buku-buku untuk aku?”.Kemudian ibu kodok kecil menjawab, “enggak sayang”.Keduanya pun melihat kembali untuk memastikan buku dan kertas-kertas itu asalnya dari mana. Setelah melihat, ibu kodok kecil pun juga merasa heran, dari mana buku dan kertas-kertas ini?.
Akhirnya, ibu dan anak itu sepakat untuk menyimpan buku dan kertas tersebut di almari pakaian.Kodok kecil berdiam diri dikamar sambil terus berpikir. Terlintas dalam pikirannya, “jangan-jangan buku dan kertas-kertas ini ada hubungannya sama mimpiku tadi, Ya Allah…..”.Tak lama kemudian, didalam almari pakaian kodok kecil terpancar cahaya yang sangat terang, kodok kecil pun kaget.Dengan bergegas kodok kecil segera membuka isi almari pakaiannya.Dan ketika dibuka cahaya yang terpancar itu hilang.Namun ketika ditutup kembali, cahaya itu bersinar kembali. “aneh, sungguh aneh ini”. pinta kodok kecil. Dalam pikiran kodok kecil, “ini pasti buku dan kertas-kertas tadi”.
Kodok kecil kemudian memindahkan buku dan kertas tadi diatas meja batunya.Kodok kecil merasa penasaran kepada kertas dan buku itu.Akhirnya dia mencoba membuka buku dan membacanya satu paragraf.Dia merasa sangat senang sekali dengan isi buku tersebut.Dia belum puas, akhirnya dia membaca satu paragraf lagi.Namun, kodok kecil lagi-lagi belum puas akhirnya dia membaca lagi hingga tiba waktu subuh dia menghabiskan satu buku tebal.
Dalam pikirannya, “inikah keajaiban dari buku ini, kenapa setiap aku membacanya aku merasa senang”.Kemudian terdengar suara adzan subuh, kodok kecil pun bergegas mengambil air wudhlu dan mengajak ibunya untuk shalat berjamaah dirumahnya yang sederhana. Selesai shalat, kodok kecil pun berdoa kepada Allah mengenai apa sebenarnya yang telah terjadi padanya. “Ya Allah kenapa hari ini hamba mengalami hal aneh, apa maksud-Mu Ya Allah memberikan buku dan kertas-kertas itu pada ku?”.Kemudian, kodok kecil kembali masuk kekamarnya, dan melihat buku dan kertas-kertas itu.Kodok kecil masih bernafsu untuk membaca buku itu.Sampai berhari-hari, kodok kecil tak pernah keluar rumah karena sangat asyiknya dengan bacaan buku itu.Akhirnya, hampir satu bulan kodok kecil bisa menyelesaikan bacaannya, lima buku tebal dapat diselesaikannya.
Setelah membaca lima buku tebal, kodok kecil menjadi ingin sekali menulis karangan mengenai pengetahuannya. Dia pun akhirnya menyadari bahwa buku-buku dan kertas-kertas itu tidak lain adalah untuk dibaca dan ditulis. Dia merasa sangat senang sekali, dapat menulis dengan lancarnya. Banyak kertas-kertas hingga ribuan kertas kosong telah ditulis dengan pena miliknya. Sehari semalam, kodok kecil tidak pernah merasa ngantuk dan capek. Dia tetap didepan buku dan kertas, sedangkan tangan kanannya yang terus bergerak, dari tepi ke tepi, kembali lagi dan seterusnya.
Hingga kemudian datang kepada kodok kecil sang ibundanya. “Nak kenapa banyak sekali kertas yang kamu tulis, kamu gak capek nak?, ini ibu beli obat nak, ibu dapat rezeki karena kemarin ibu kerja”. Kemudian kodok kecil menjawab, “ibu, nanda pengen gak sembuh, nanda pengen dikamar terus, kalau nanda sembuh terus main keluar, nanda pasti gak bisa menulis dan membaca di kamar”.Sang ibu pun kaget mendengar jawaban dari anaknya. “tapi nak minum dulu obatnya”. Pinta sang ibu. Kodok kecil pun menjawab dengan wajah penuh keyakinan, “ibu aku pengen kerja keras membantu ibu, biarpun aku tidak sekolah, tapi bu aku pengen jadi penulis yang terkenal, aku pengen bisa bahagiain ibu, aku pengen bu suatu saat nanti nanda bisa menulis buku”. Sang ibu pun meneteskan air mata, melihat semangat dari anaknya.Meskipun tidak disekolahkan karena tidak ada biaya, namun dia memiliki semangat yang sangat tinggi untuk bisa jadi penulis yang terkenal.
Waktu terus berganti, antara siang dan malam.Kodok kecil tetap istiqomah di meja kerjanya. Kodok kecil akan pindah dari tempatnya ke tempat sholat, apabila waktu shalat telah tiba. Dia tidak pernah terlambat untuk melaksanakan kewajibannya. Seandainya penyakitnya sembuh, maka dia akan selalu hadir ke masjid ketika waktu shalat telah tiba. Rasa bangga ada pada sang ibu, dia memiliki seorang anak yang sangat tekun beribadah dan bersungguh-sungguh dalam bekerja. “mungkin kejadian yang lalu, datangnya buku-buku dan kertas-kertas menandakan kalau anakku punya bakat menulis dan membaca”. Pinta ibu dalam hatinya.Kemudian dia bersyukur kepada Allah, berkat bantuan Dia, anaknya dapat belajar meskipun dirumah.Sang ibu merasa tenang karena anaknya tidak pernah lagi diejek temannya, dijauhi temannya dan di hina oleh temannya.Sang ibu menyadari bahwa rencana Allah lebih baik dan lebih sempurna daripada rencananya.
Pada suatu malah hari , kodok kecil belum berputus asa untuk berhenti menulis. terus menulis dan menulis. jutaan kertas telah ia habiskan. Hampir tidak ada tempat lagi dikamarnya untuk meletakkan kertas yang berisi tulisan itu.sampai kemudian, di dalam hatinya mengajak kodok kecil untuk shalat malam atau shalat tahajud. Ia pun bergegas untuk mengambil air wudhlu. Selesai shalat tahajud, dia merasa ngantuk sekali hingga kodok kecil pun tertidur. Ternyata, didalam tidur kodok kecil, ia bermimpi banyak sekali kertas-kertas yang berisi tulisan diletakkan berdampingan dengan emas. Kodok kecil pun didalam mimpinya ingin mengambil kertas berisi tulisan itu dan kemudian mengambil emas.Tangan kodok kecil merasa sangat mudah sekali menggapai kertas-kertas yang berisi tulisan.Dan lebih mudah lagi, kodok kecil menggapai emas yang ada disamping kertas.
Dia kemudian terperanjat dari tidurnya, ia sendiri bingung, “kenapa aku tidur?” pinta kodok kecil itu. dia kemudian berpikir , mengingat-ingat dari apa yang telah dialaminya. “berarti selesai shalat tadi, aku trus tidur disini, tapii…… sepertinya tadi aku mimpi aneh lagi”. Pinta si kodok kecil itu.Kodok kecil ingat kalau dalam mimpinya dia melihat kertas dan emas, yang kemudian diambilnya dengan sangat mudah.
Akhirnya, si kodok kecil kembali menulis di atas mejanya.Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu, “tok tok, assalamualaikum”.Ibu berlari menghampiri pintu dan membukanya. “oh ternyata bapak, silahkan masuk pak”. Sahut ibu kodok kecil.Datang kodok yang bertugas untuk menagih hutang. “buk, utang keluarga ibu cukup banyak, dan ibu belum sama sekali nyicil”. Pinta penagih utang itu.kemudian ibu kodok kecil menjawab, “baik pak, insya Allah dalam waktu seminggu ini akan saya lunasi”. Penagih utang itu kemudian pamit untuk pulang, namun ketika hendak keluar dari pintu rumah, dia melihat kodok kecil yang sedang asyik menulis di jendela kamarnya. Kemudian, penagih utang itu bertanya kepada ibu kodok kecil, “wahai ibu, siapa anak itu?”.ibu menjawab, “itu adalah anak saya, dia sedang sakit dan gak mau keluar rumah”. Kemudian, sang penagih utang itu berjalan menghampiri kodok kecil di jendela kamarnya. Kodok kecil kaget, “kamu siapa??”. “tenang nak, aku penagih utang di kampung ini”. jawab dari penagih utang. “kamu menulis apa nak?”. Pinta penagih utang.Aku menulis apa yang ada dalam pikiranku, setelah aku baca lima buku, aku menjadi sangat ingin untuk menulis”.jawaban dari kodok kecil. Penagih utang itu merasa kagum dengan usaha kodok kecil. “kamu sekolah tidak nak?”. “aku tidak sekolah, karena ibu belum punya biaya”. Jawab dari sang kodok kecil. “nak kamu punya bakat menulis, tadi di papan pengumuman bapak baca kalau kampung kita mau ngadain lomba kepenulisan, kamu ikut nak?, hadiahnya jutaan rupiah”. Pinta penagih utang. “baik pak, saya akan ikut”. Jawab kodok kecil dengan penuh semangat.
Setelah itu, penagih utang pergi pamitan.Dan datang ibu kodok kecil. “nak sudah menulisnya, kamu pasti capek kan?” pinta ibu kodok kecil. “iya bu sebentar”, sahut kodok kecil. “nak !sudah berhenti menulisnya !” kata ibu kodok kecil dengan nada tegas. Akhirnya, kodok kecil pun berhenti menulis dan menata buku serta kertas-kertas tulisannya. “nak, yakin kamu mau ikut lomba menulis?” tanya ibu. “ibu, aku pengen sekali ikut, tolong bu beri izin aku?”. Pinta kodok kecil dengan wajah penuh harap. “iya nak ibu tidak melarang kamu ikut lomba itu, dan sebenarnya juga tidak melarang kamu untuk menulis, tapi saran ibu, kenali waktu, waktu untuk shalat, untuk istirahat, dan untuk makan. Oke?”.Pinta ibu. “siap buuu….!!!” Jawab kodok kecil dengan wajah yang penuh bahagia dan semangat.
Waktu perlombaan pun telah tiba.Banyak peserta lomba yang datang dengan perlengkapan-perlengkapan yang canggih dan modern.Namun, kodok bersama ibunya, datang dengan pakaian dan perlegkapan yang sangat sederhana. Sampai-sampai ketika mereka berdua mau daftar di bagian registrasi peserta, salah seorang panitia berkata, “kalian berdua mau nagapain?, kalau mau mulung nanti yaa belum waktunya, jadi sekarang kalian pergi dulu”. Kemudian ibu kodok kecil menjawab dengan nada yang pelan, “pak kami mau mendaftar lomba ini”.kemudian tertawalah panitia-panitia yang ada di bagian registrasi, “hahahahahahahaha hahahahahaha kalian mau daftar?, hahaha mustahil kalian menang”. Mendengar pernyataan itu, kodok kecil hampir menangis, matanya merah menahan sakit. “sabar yang nak kamu pasti bisa” pinta dari ibu.
Kodok kecil kemudian duduk di meja yang telah disediakan panitia. Kawan-kawan yang biasanya mengejek dan menghina kodok kecil pun ikut jadi peserta, mereka kemudian mendatangi kodok kecil dan berkata, “ehh kenapa kamu disini?, kamu penyakitan lebih baik dirumah”. Kodok kecil hanya diam mendengar kawannya berkata seperti itu.peserta yang lainnya pun menjadi menjauh dari kodok kecil, karena takut kalau tertular penyakitnya.
Perlombaan dimulai, dengan waktu sekitar tiga jam.Terlihat kertas dari kodok kecil masih kosong. Sementara dari peserta lain, mereka sudah mulai menulis dan hampir menghabiskan satu kertas. Satu jam sampai dua jam telah berjalan, kodok kecil masih terlihat berdiam diri dihadapan kertasnya. Sementara dari peserta lainnya sudah menghabiskan tiga kertas.Ketika kodok kecil melihat wajah ibunya dikursi penonton, dia kemudian bersemangat dan mulai untuk menulis.entah apa yang ada dalam pikiran kodok kecil, dia menulis dengan lancarnya. Dengan wajah yang penuh semangat dan penuh dengan senyuman, membuat peserta lainnya menjadi terheran. Waktu sisa satu jam, kodok kecil terus menulis hingga menghabiskan tiga kertas.
Akhirnya, waktu telah selesai, kodok kecil terlihat sangat optimis dengan hasil yang akan didapat. Lima lembar kertas telah dihabiskannya.Dan dia pun yakin dengan isi tulisannya.Kemudian, penilai atau juri mengumpulkan semua hasil tulisan peserta.Waktu menilai dari juri sekitar satu jam.Sementara terlihat dari para peserta riuh ramai, karena mereka yakin kalau mereka bisa mendapatkan uang jutaan rupiah itu. “horeeeeee aku pasti yang akan dapat hadiah uangnya” kata salah satu peserta. “bukan kamuuu tapi aku yang jadi juaraaa…”. “aku yang juara”, “yang juara aku”, bukan kalian yang juara tapi lihat nih aku yang juara,”, “uangnya untuk beli es krim yang banyak….. hmmm lezatt”, yang juara akuuuu….” Ucap banyak peserta yang membuat suasana menjadi riuh.Mereka saling menunjukkan bahwa dialah yang menjadi juara.Sementara terlihat kodok kecil yang sedang berdiam diri, dia ternyata sedang sibuk berdoa dan bertawakkal.Dia meminta pada Allah untuk hasil yang terbaik.
Akhirnya waktu pengumuman hasil tulisan telah tiba, ketika panitia akan mengumumkan hasil pemenangnya, para peserta terdiam. “keputusan dari panitia tidak dapat diganggu gugat”, pinta salah satu panitia. “dan yang menjadi pemenang lomba kepenulisan dan berhak membawa pulang hadiah adalah…………………kodok kecil..!!!!”. mendengar pengumuman dari panitia, kodok kecil kaget, dia tidak menyangka bahwa dirinya yang menjadi juara lomba, kemudian kodok kecil bersyukur dengan bersujud kepada Allah. Kodok kecil lah yang menang. “tulisan dari kodok kecil ini sangat bagus sekali, dia menulis dengan judul “Ketika Pena Menari”, kata panitia sambil mengucapkan selamat kepada kodok kecil. Terlihat ibu kodok kecil dari bangku penonton menangis, kodok kecil pun tidak bergegas mengambil hadiah yang disediakan oleh panitia, namun kodok kecil justru menghampiri ibunya dan memeluknya. “ibu aku berhasil”, kata kodok kecil. “selamat anakku, kamu memang yang terbaik”. Jawab ibu dengan menangis.Kodok kecil pun dengan lembutnya mengusap air mata ibunya, dan mencium kaki ibunya.Dan berkata “aku sayang ibu”.
Hari demi hari, kodok kecil bermain diluar rumahnya bersamanya ibunya.Alhamdulillah, penyakit yang diderita kodok kecil selama ini sudah sembuh.Berkat menang lomba, hidup mereka berdua dapat tercukupi.Bahkan, banyak media-media yang membutuhkan jasa dari kodok kecil.Sampai pada akhirnya, kodok kecil dapat pekerjaan sebagai penulis di salah satu media yang sangat terkenal.Sekarang, menulis dan membaca menjadi sahabat dekat kodok kecil.Jalan hidup yang dipilihnya memperbaiki kehidupan kodok kecil dan ibunya.Dia sangat senang, banyak teman-teman kodok kecil yang sebelumnya sering mengejek atau menghinanya, sekarang menjadi baik kepadanya.Bahkan kodok kecil sering mengajarkan kepada teman-temannya mengenai cara-cara menulis.teman-temannya pun merasa senang sekali, dan tidak lupa kodok kecil selalu bersyukur kepada Allah atas apa yang diberikan kepadanya. Semua yang dirasakan sekarang tidak lain adalah bantuan dari-Nya. “ternyata mimpi yang aku alami dulu adalah petunjuk Allah kepadaku agar aku menulis”. pinta kodok kecil.
Tulisan-tulisan kodok kecil banyak sekali termuat diberbagai media, dan banyak pula koleksi-koleksi buku karya kodok kecil. Dia berdoa kepada Allah, semoga tulisannya dapat bermanfaat bagi kodok-kodok yang lain. Aminnn….

cerita ini hanyalah fiktif, cerita yang oleh penulis di ikutkan dalam perlombaan kepenulisan cerita dengan segmentasi anak-anak di Pro-U Media
selamat membaca semoga bermanfaat


Tidak ada komentar:

Posting Komentar