Kupeng, atau kurang pengalaman itulah gelar yang cocok untuk saya.
Kenapa? Karena selama saya mengenyam pendidikan saya belum pernah sama sekali
merasakan jauh dengan ortu (mandiri). Melihat teman-teman se kampus atau se
fakultas, banyak sekali bahkan mayoritas mereka adalah anak kos-kosan atau anak
pondokan, yang notabenya mereka jauh dari orang tua. Tidak heran, saya terlahir
di Bantul sehingga selama saya mengenyam pendidikan saya hanya belajar di
lembaga pendidikan yang ada di wilayah Bantul. Padahal hidup dengan jauh dari
orang tua merupakan pijakan utama untuk menatap masa depan agar lebih
mandiri.
Kurang pengalamannya saya tersebut, saya siasati. Sebagai calon
guru Pendidikan Agama Islam saya berinisiatif untuk mencari tempat agar saya
bisa melatih diri saya untuk mengajar. Karena ada beberapa mahasiswa, sebut
saja teman saya. Mereka anak rumahan seperti saya, namun kegiatan atau
aktivitas mereka sehari-hari kurang mendukung profesi mereka sebagai calon
guru. Saya mulai mencari tempat tersebut, kalau bisa tempat yang tidak begitu
jauh dari rumah saya. Dan Alhamdulillah, akhirnya imajinasi awal saya menjadi
kenyataan. Saya menemukan lokasi tempat TPA di desa saya, dan lokasinya pun
tidak begitu jauh dari rumah saya.
TPA Majelis Qur’an, itulah nama lokasi TPA yang akan saya jadikan
lahan untuk beramal jariyah dan untuk mengembangkan kemampuan saya. Alamat
lokasi TPA tersebut di selatan Rutan (Rumah Tahanan) Pajangan Bantul. Awalnya,
saya di ajak teman satu desa untuk ikut mengajar, ya kira-kira ada enam orang.
Namun di tengah jalan ketika saya juga sudah beradaptasi dengan lingkungan
baru, mereka justru jarang berangkat.
Di TPA ini saya memulai langkah awal saya sebagai calon guru. Saya ingat
apa yang disampaikan dosen saya ketika mengajar dikelas. “sebagai calon guru,
apalagi guru Agama Islam, kalian harus melatih diri kalian dengan sering-sering
ikut ngajar TPA”. Beliau sambil menceritakan kisah alumni PAI UMY yang sudah
sukses mengajar di salah satu lembaga pendidikan, berkat usaha awalnya ngajar
TPA.
Dari situ saya mulai sadar, bahwa sukses itu butuh proses. Sukses
bukanlah sesuatu yang langsung jadi. Mi instan pun meskipun namanya instan tapi
dalam langkah membuatnya butuh yang namanya proses. Jadi, kesungguhan dan
kemauan yang keras adalah dua kalimat yang sangat saya butuhkan untuk terus
istiqomah.
Saya ingat betul ketika mendengarkan teman saya presentasi di
kelas. “model mengajar dengan cara ceramah akan membuat anak-anak bosan dan
jenuh, tapi jika diselingi dengan games atau menonton gambar atau film akan
membuat anak tambah semangat untuk belajar”. Dari situ kemudian saya punyai ide
untuk mengajak anak-anak belajar Iqro’ atau Qur’an sambil diselingi games.
Karena kegiatan rutinnya, di TPA Majelis Qur’an ini membaca Iqro’ atau
al-Qur’an dengan dibimbing oleh Pak Ustad dan Bu Ustad. Serta ada tambahan
hafalan Qur’an bagi anak-anak yang sudah mampu membaca Qur’an dengan baik.
Ada salah satu santri yang usul untuk main-main ke goa selarong.
Dari usul itu, saya mau mendampingi anak-anak. Seperti rencana saya dan seperti
pesan teman saya diatas. Saya ingin membuat semacam permainan kecil-kecilan, ya
hitung-hitung buat refresing anak-anak juga. Saya dan teman saya mas Arif,
mengajak anak-anak untuk bermain game yang namanya lompat hija’iyah, bermain
ular tangga, nyanyi-nyanyi dan juga tebakan-tebakan. Alhamdulillah, anak-anak
senang sekali dengan game yang saya dan teman saya adakan. Selain itu, dengan
refresing dan game yang saya berikan membuat anak-anak semakin bersemangat
untuk ngaji. Di hari selanjutnya, banyak anak-anak yang berangkat ngaji dengan
wajah penuh semangat.
Dari situ saya membuat suatu kesimpulan, bahwa anak-anak di TPA
Majelis Qur’an butuh yang namanya refresing karena setiap sore hari mereka
harus berangkat untuk belajar al-Qur’an. Itu pun mereka di pagi harinya juga
masih belajar di sekolah masing-masing. Memang kita sebagai pendidik, baik
pendidik di lembaga formal atau non formal harus mengerti dan memahami kondisi dari
peserta didik kita. Tidak sepatutnya sebagai pendidik memberikan
tuntutan-tuntutan yang bersifat mengekang atau mengharuskan. Karena hal itu
akan berdampak pada mental anak yang cenderung akan membentuk dirinya menjadi
anak yang sensitif.
Refresing, game atau permainan adalah solusi yang penting guna
memberikan semangat baru kepada anak-anak. Tidak lupa pula, sebagai pendidik
perlu untuk membagi waktu antara belajar dengan refresing anak-anak. Tidak
kemudian refresing lebih diutamakan dari pada belajar. Lebih baiknya, memadukan
antara belajar dan bermain, karena dua aspek tersebut sangat sesuai dengan
kebutuhan anak-anak sekarang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar