Senin, 18 Januari 2016

Anak Perlu untuk Refresing

Kupeng, atau kurang pengalaman itulah gelar yang cocok untuk saya. Kenapa? Karena selama saya mengenyam pendidikan saya belum pernah sama sekali merasakan jauh dengan ortu (mandiri). Melihat teman-teman se kampus atau se fakultas, banyak sekali bahkan mayoritas mereka adalah anak kos-kosan atau anak pondokan, yang notabenya mereka jauh dari orang tua. Tidak heran, saya terlahir di Bantul sehingga selama saya mengenyam pendidikan saya hanya belajar di lembaga pendidikan yang ada di wilayah Bantul. Padahal hidup dengan jauh dari orang tua merupakan pijakan utama untuk menatap masa depan agar lebih mandiri. 
Kurang pengalamannya saya tersebut, saya siasati. Sebagai calon guru Pendidikan Agama Islam saya berinisiatif untuk mencari tempat agar saya bisa melatih diri saya untuk mengajar. Karena ada beberapa mahasiswa, sebut saja teman saya. Mereka anak rumahan seperti saya, namun kegiatan atau aktivitas mereka sehari-hari kurang mendukung profesi mereka sebagai calon guru. Saya mulai mencari tempat tersebut, kalau bisa tempat yang tidak begitu jauh dari rumah saya. Dan Alhamdulillah, akhirnya imajinasi awal saya menjadi kenyataan. Saya menemukan lokasi tempat TPA di desa saya, dan lokasinya pun tidak begitu jauh dari rumah saya.
TPA Majelis Qur’an, itulah nama lokasi TPA yang akan saya jadikan lahan untuk beramal jariyah dan untuk mengembangkan kemampuan saya. Alamat lokasi TPA tersebut di selatan Rutan (Rumah Tahanan) Pajangan Bantul. Awalnya, saya di ajak teman satu desa untuk ikut mengajar, ya kira-kira ada enam orang. Namun di tengah jalan ketika saya juga sudah beradaptasi dengan lingkungan baru, mereka justru jarang berangkat.
Di TPA ini saya memulai langkah awal saya sebagai calon guru. Saya ingat apa yang disampaikan dosen saya ketika mengajar dikelas. “sebagai calon guru, apalagi guru Agama Islam, kalian harus melatih diri kalian dengan sering-sering ikut ngajar TPA”. Beliau sambil menceritakan kisah alumni PAI UMY yang sudah sukses mengajar di salah satu lembaga pendidikan, berkat usaha awalnya ngajar TPA.
Dari situ saya mulai sadar, bahwa sukses itu butuh proses. Sukses bukanlah sesuatu yang langsung jadi. Mi instan pun meskipun namanya instan tapi dalam langkah membuatnya butuh yang namanya proses. Jadi, kesungguhan dan kemauan yang keras adalah dua kalimat yang sangat saya butuhkan untuk terus istiqomah.
Saya ingat betul ketika mendengarkan teman saya presentasi di kelas. “model mengajar dengan cara ceramah akan membuat anak-anak bosan dan jenuh, tapi jika diselingi dengan games atau menonton gambar atau film akan membuat anak tambah semangat untuk belajar”. Dari situ kemudian saya punyai ide untuk mengajak anak-anak belajar Iqro’ atau Qur’an sambil diselingi games. Karena kegiatan rutinnya, di TPA Majelis Qur’an ini membaca Iqro’ atau al-Qur’an dengan dibimbing oleh Pak Ustad dan Bu Ustad. Serta ada tambahan hafalan Qur’an bagi anak-anak yang sudah mampu membaca Qur’an dengan baik.
Ada salah satu santri yang usul untuk main-main ke goa selarong. Dari usul itu, saya mau mendampingi anak-anak. Seperti rencana saya dan seperti pesan teman saya diatas. Saya ingin membuat semacam permainan kecil-kecilan, ya hitung-hitung buat refresing anak-anak juga. Saya dan teman saya mas Arif, mengajak anak-anak untuk bermain game yang namanya lompat hija’iyah, bermain ular tangga, nyanyi-nyanyi dan juga tebakan-tebakan. Alhamdulillah, anak-anak senang sekali dengan game yang saya dan teman saya adakan. Selain itu, dengan refresing dan game yang saya berikan membuat anak-anak semakin bersemangat untuk ngaji. Di hari selanjutnya, banyak anak-anak yang berangkat ngaji dengan wajah penuh semangat.
Dari situ saya membuat suatu kesimpulan, bahwa anak-anak di TPA Majelis Qur’an butuh yang namanya refresing karena setiap sore hari mereka harus berangkat untuk belajar al-Qur’an. Itu pun mereka di pagi harinya juga masih belajar di sekolah masing-masing. Memang kita sebagai pendidik, baik pendidik di lembaga formal atau non formal harus mengerti dan memahami kondisi dari peserta didik kita. Tidak sepatutnya sebagai pendidik memberikan tuntutan-tuntutan yang bersifat mengekang atau mengharuskan. Karena hal itu akan berdampak pada mental anak yang cenderung akan membentuk dirinya menjadi anak yang sensitif.

Refresing, game atau permainan adalah solusi yang penting guna memberikan semangat baru kepada anak-anak. Tidak lupa pula, sebagai pendidik perlu untuk membagi waktu antara belajar dengan refresing anak-anak. Tidak kemudian refresing lebih diutamakan dari pada belajar. Lebih baiknya, memadukan antara belajar dan bermain, karena dua aspek tersebut sangat sesuai dengan kebutuhan anak-anak sekarang.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar